Trimurjo, Tawali News - Di balik cita-cita mulia bapak Presiden RI Prabowo Subianto tentang, program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat ancaman bagi pelaku usaha mikro. Seperti yang terjadi di Kampung Liman Benawi Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, pendapatan pelaku usaha mikro di kantin-kantin sekolahan dan pedagang kecil yang biasa berjualan di lingkungan sekolah.
Kepala Kampung (Kakam) Liman Benawi Kecamatan Trimurjo, Nyono Rahadi. S.AP mengungkapkan, bahwa program MBG berdampak pada anjloknya omzet penjualan kantin. Menurutnya, MBG menggerus 40% pendapatan para pelaku usaha mikro di warung maupun di sekolah yang menjalankan program tersebut.
"Negatifnya pasti akan berdampak kepada pelaku usaha mikro. Kalau memang berdampak ke kantin, pasti berdampak bagi sekolah yang sudah mendapatkan (program) Makan Bergizi Gratis," kata Nyono Rahadi kepada media ini, Selasa 27 Januari 2026.
Lebih lanjut Nyono Rahadi mengatakan, pemerintah perlu membentuk regulasi yang dapat melibatkan para pelaku usaha mikro, seperti pedagang di kantin sekolah. Padahal, lanjutnya, MBG diharapkan dapat mendorong ekonomi usaha mikro melalui multiplier efeknya.
"Mereka yang berjualan di sekitar sekolah, maupun di dalam sekolah, pasti akan berdampak dagangannya akan turun. Berdasarkan prosedur mitra MBG, Nyono juga tak menampik pelaku usaha mikro tidak memungkinkan untuk terlibat lebih jauh. "Ia mengatakan, regulasi MBG memperbolehkan mitranya yang memiliki luas dapur 20x20 meter," jelasnya.
Selain itu, kata Nyono, mitra MBG juga wajib berbadan hukum berdasarkan regulasi pemerintah, baik berbentuk CV, PT, maupun BUMDes. Secara finansial, usaha mikro yang menjadi mitra MBG juga harus dalam kondisi kuat.
"Mampu nggak mereka mensuplai sampai 10.000 (paket MBG)? Itu nanti berkorelasi dengan pembayarannya. Pemerintah akan membayar itu tepat waktu nggak? Tiap hari nggak? Kayaknya tuh memang agak berat," terang Nyono Rahadi. (Red)